6 Kementerian dan BPOM Perketat Pengawasan Pangan Pasca Penarikan Produk Mie Sedaap

Wecome Strategic-Staff di Situs Kami!

Strategic-Staff – Kabar penarikan Mie Sedaap dari beberapa negara karena kandungan bahan kimia berbahaya memang cukup menarik, pasalnya menurut data World Instant Noodles Association (WINA), pada tahun 2021 Indonesia menjadi top konsumen mie Produk mie instan terbesar kedua di dunia, pada tahun 2021, terdapat konsumsi sebesar 13,27 miliar bungkus atau 11,2 persen dari konsumsi mie instan dunia pada tahun 2021. 6 Kementerian dan BPOM Perketat Pengawasan Pangan Pasca Penarikan Produk Mie Sedaap

Sedangkan produksi mie instan dalam negeri pada tahun 2021 mencapai 1,2 juta ton dengan nilai ekspor sebesar 153.000 ton atau senilai $246 juta.

Kementerian Perindustrian RI menegaskan, produk Mie Sedaap asal Indonesia sama dengan produk konsumen lainnya. yang memenuhi standar pangan Hal yang sama juga berlaku untuk produk ekspor. Resmi, Harga Tiket Kereta Cepat Jakarta Bandung Dinamis Mulai 3 Februari, Paling Murah Rp 150 Ribu

“Tentunya perusahaan yang mengekspor pangan ke luar negeri harus mewaspadai peraturan yang diberlakukan oleh negara tujuan ekspor. serta memenuhi standar mutu dan keamanan pangan yang ditentukan,” kata Putu, Direktur Jenderal Agroindustri. kata Kementerian Perindustrian Julie Ardiga pada Jumat (21/10/2022).

Putu mengatakan, produk Wings Group Indonesia telah menarik diri dari pasar Hong Kong, Taiwan, dan Singapura, pihaknya menegaskan telah mengambil langkah mitigasi.

Diantaranya, memperkuat kelompok kerja Indonesia Rapid Alert System for Food and Feed (Inrasff) dari pemangku kepentingan terkait.

Misalnya saja perwakilan pemangku kepentingan berasal dari BPOM (sebagai narahubung nasional), Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kesehatan Masyarakat. dan Kementerian Keuangan

“Inrasff adalah sistem komunikasi cepat untuk menindaklanjuti pemberitahuan masalah ekspor dan impor produk,” ujarnya kepada Antara.

Dia menambahkan, ada kebutuhan untuk mengembangkan metode untuk menguji residu etilen oksida dalam makanan. Saat ini di Indonesia Pengujian residu hanya dapat dilakukan oleh laboratorium BPOM.

Sementara itu, Profesor Purwiyatno Hariyadi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan peraturan etilen oksida di berbagai negara Di seluruh dunia, penerapannya bervariasi. Ada banyak negara yang melarang penggunaannya. Namun ada beberapa negara yang masih mengizinkan penggunaannya.

“Indonesia merupakan salah satu negara yang melarang penggunaan etilen oksida untuk pestisida/herbisida dan bahan pangan (fumigasi), namun masih digunakan untuk mensterilkan alat kesehatan,” jelasnya. 6 Kementerian dan BPOM Perketat Pengawasan Pangan Pasca Penarikan Produk Mie Sedaap

Dengan peraturan yang berbeda tersebut Batas maksimum residu (MRL) suatu makanan juga berbeda-beda di setiap negara. Salah satu kawasan dengan peraturan BMR paling ketat adalah Uni Eropa.

“Masih ada beberapa negara yang belum menetapkan BMR, sehingga BMR yang ditetapkan setiap negara berbeda-beda. Artinya, beberapa negara menetapkan tingkat 0,01 ppm, atau beberapa negara bahkan menetapkannya agar tidak terdeteksi.” Saat ini, organisasi internasional yang berafiliasi dengan WHO/FAO, Codex, belum menetapkan batas atas residu etilen oksida. Ringkasan