Review Film Pasukan Semut: Cerita dari Tapal Batas

Wecome Strategic-Staff di Website Kami!

JAKARTA – Pada tahun 2011, saya berkesempatan menjelajahi lima desa Entikong di perbatasan Indonesia dan Malaysia dan melihat langsung kehidupan masyarakat di sana. Review Film Pasukan Semut: Cerita dari Tapal Batas

Pertanyaan ini berkaitan dengan pembuatan tayangan panjang berjudul Cerita dari Tapal Batas. Aku sedang duduk di kursi produser sambil memperhatikan Wisnu Adi yang menjadi sutradaranya. Kami memaparkan persoalan-persoalan yang akhir-akhir ini muncul di negeri ini.

Ada tiga permasalahan utama yang kami identifikasi di sana, yakni pendidikan, kesehatan, dan perdagangan manusia. Semua terangkum dalam Cerita dari Tapal Batas yang kemudian masuk nominasi Buku Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2012.

Tepat 10 tahun kemudian, persoalan perbatasan kembali diangkat di FFI. Dengan film pendek berjudul “Kelompok Semut”, kita dapat melihat bahwa setelah 10 tahun, tidak ada perubahan signifikan yang terjadi di sana. Pangeran Mateen Sah Nikahi Anisha Rosnah, Identitas Sang Istri Terkuak

Kita masih melihat betapa timpangnya kehidupan masyarakat Indonesia dan Malaysia di seberang perbatasan. Kita wajib melihat sutradara Haris Supiandi dari sudut pandang Rizal, tokoh utama Semut.

Foto: Film Gertak

Menjadi miskin di Jakarta dan menjadi miskin di daerah lain pada awalnya tampak serupa, namun sebenarnya keduanya sangat berbeda. Di Jakarta kita melihat perbandingan masyarakat lokal, tapi di perbatasan kita harus makan pil pahit dibandingkan warga negara tetangga.

Saya pribadi merasakan betapa sulitnya transportasi, yang selalu menjadi akar permasalahan di perbatasan. Karena kurangnya akses, masyarakat membutuhkan waktu berjam-jam untuk menjual produknya ke pedagang lokal. Sedangkan untuk menuju Malaysia cukup naik ojek dan langsung menjumpai jalan yang mulus dan bebas hambatan.

Rizal berada di tengah kekacauan krisis yang berlangsung puluhan tahun. Antara masalah ekonomi dan penyakit ibunya, Rizal harus mengambil keputusan: bermain kucing-kucingan dengan “kacang hijau”.

Istilah tersebut mengacu pada tentara Indonesia yang banyak berpatroli di wilayah perbatasan. Itu sebabnya Rizal menyelundupkan gula untuk mendapatkan penghasilan yang cukup untuk menutupi biaya pengobatan ibunya. Namun keselamatannya terancam dan hidupnya rapuh.

Foto: Film Gertak

Haris memaksa kita masuk ke dalam kehidupan Rizal yang sempit di tengah dunia luas yang sama sekali tidak bisa diakses. Dengan cerita menarik dan pengambilan gambar yang bagus, kita akan menemui permasalahan di perbatasan Rizal.

Melalui kacamatanya, kita melihat pemerintah tidak peduli terhadap masyarakat yang tinggal jauh dari pusat. Masalah ini saya pelajari sendiri ketika akhirnya saya membenamkan diri dalam kehidupan masyarakat perbatasan. Fakta bahwa negara ini sangat besar dan perluasannya adalah wilayahnya terdiri dari 17 ribu pulau yang tidak mudah terhubung satu sama lain.

Hidup harus dijalani, terkadang tanpa perhitungan yang berarti, seringkali tanpa akhir, seperti pilihan berani Harris untuk mengakhiri film tersebut. Sehingga Rizal hidup dalam lingkaran setan kemiskinan dan melingkupinya, tidak tahu bagaimana cara untuk melepaskan diri darinya.

Itu sebabnya banyak orang seperti Rizal yang masih rela mengambil risiko hidup buruk di negaranya daripada berpindah kewarganegaraan. Entah apa yang ada di benak orang-orang yang tetap mempertahankan identitas keindonesiaannya di tengah permasalahan hidup yang paling berat.

Foto: Film Gertak Review Film Pasukan Semut: Cerita dari Tapal Batas

Ketika kami tiba di Entikong pada tahun 2011, kami memotret beberapa orang tua dan anak-anak mereka yang sedang memanen tanaman yang membutuhkan waktu berjam-jam untuk mencapai desa lain. Setelah itu, hasil pertanian dijual dan sebagian ditukarkan untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari mie, minyak goreng, hingga roti dan kue yang merupakan komoditas langka.

Kami mengajak mereka makan mie dengan cepat di tengah keringat yang bercucuran di dahi dan sekujur tubuh. Tidak ada beban yang terlihat di antara mereka. Mereka masih sempat bercanda satu sama lain dan langsung menyantap mie yang enak.

Setiap kali saya mengingat kejadian ini, mata saya berkaca-kaca. Saya sering tidak menghargai hidup mudah di kota besar Jakarta. Seringkali, saya mengutuk kemacetan dan kemacetan ibu kota, tanpa menghargai kenyamanan dan kesederhanaan yang diberikannya.